Selasa, 28 Oktober 2014

Seorang Pengusaha Berdayakan Tunawisma Untuk Jadi Pemandu Wisata

Masalah kemiskinan tidak hanya dialami oleh Indonesia. Ketimpangan ekonomi juga terjadi di berbagai negara, termasuk di Spanyol.

Tepatnya di Barcelona, jumlah tunawisma saat ini mencapai sekitar 3.000 orang dari populasi berjumlah 1,6 juta penduduk. Namun, alih-alih sekadar menggerutu, penduduk Spanyol memiliki konsep menarik untuk mendayagunakan potensi yang dimiliki para tunawisma tersebut.


Seperti dikutip dalam Fastcompany.com, seorang ekspatriat asal Inggris di Barcelona, Lisa Grace, membangun usaha bernama Hidden City Tours. Berbeda dari usaha tur wisata lainnya, Grace menggandeng para tunawisma yang sudah mengenal Barcelona hingga sudut-sudut tergelapnya. Grace kini mempekerjakan lima tunawisma di perusahaan kecilnya.

"Pemandu wisata kami memiliki lebih banyak pengalaman hidup, empati, dan menurut saya mereka memiliki indera keenam dari pengalaman bertahun-tahun hidup di jalan," ujar Grace pada Fastcompany.com, Sabtu (18/10/2014).

Hidden City Tours didirikan para 2013. Selain mempekerjakan para tunawisma, tur ini juga menawarkan hal berbeda. Setiap kelompok tur hanya berisi kelompok kecil atau empat orang. Dengan jumlah minim, tidak ada anggota grup yang akan hilang di tengah jalan.

Usaha rintisan Grace dianggap sebagai usaha amal bagi sebagian orang. Grace tidak menampik pandangan tersebut. Dia hanya menyatakan bahwa usaha yang dia jalankan benar-benar serius dan berorientasi pada keuntungan.

"Badan amal adalah badan yang menerima donasi dan hibah. Kami adalah perusahaan yang menawarkan jasa, jasa berkualitas. Kami tidak menerima pembiayaan atau donasi. Sebuah perusahaan sosial harus ekonomis. Jika tidak, (usaha) ini hanya akan menyebabkan lebih banyak masalah bagi masyarakat," tuturnya.

Cara Grace melihat potensi di antara kemiskinan Barcelona sebenarnya sederhana. Pertama-tama, dia bekerja sama dengan badan amal setempat untuk mendapatkan referensi para tunawisma yang cakap bekerja. Kemudian, dia terus memperluas koneksinya untuk mendapatkan "bibit" baru.

Tidak asal merekrut, Grace juga memastikan bahwa tunawisma yang dia ajak kerjasama harus bebas dari penyalahgunaan obat terlarang, alkohol, dan harus bisa berbahasa asing. Tunawisma yang dipekerjakan Grace setidaknya harus menguasai bahasa Prancis, Inggris, atau Jerman. Mereka juga sebaiknya merupakan penutur asli bahasa Spanyol dan Katalan.

Setiap pemandu wisata akan mendapatkan 50 persen dari biaya tur. Mereka diperbolehkan membawa pulang 100 persen dari tip yang mereka terima. Hal ini bisa membuat para tuna wisma mandiri secara finansial. Karena itu, tutur Grace, bukan uang yang terpenting dalam usahanya, namun efek sosial bagi tuna wisma.

"Bersama dengan orang-orang dan bertemu orang baru dalam tur merupakan hal baik bagi para pemandu wisata. Bicara mengenai pengalaman mereka hidup di jalan juga semacam terapi," ujarnya.

Menariknya, para mantan tunawisma ini terus berkembang. Tidak hanya puas bekerja untuk Grace, mereka yang sudah mengumpulkan banyak pengalaman kemudian berencana untuk meninggalkan Spanyol dan bekerja di negara lain. Spanyol, dengan kondisi perekonomiannya yang tengah goyah, tidak lagi menarik bagi mereka.

"Jika kami masih memiliki pemandu wisata yang sama tiga tahun dari sekarang, maka kami melakukan sesuatu yang salah. Dalam kasus ini, pergantian pekerja merupakan hal yang baik," tukas Grace.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar